Kisah Urwah Ibn Zubair, Tabi’in Difabel Yang Kakinya Diamputasi

Kisah Urwah Ibn Zubair
‘Urwah sedang dalam perjalanan dari kota Madinah menuju ke kota Damaskus. Tiba-tiba kaki beliau menginjak sesuatu hingga membuat kaki nya terluka. Luka tersebut ternyata kian parah dan membesar.

‘Urwah Ibn Zubair ialah seorang tabi’in besar, putra seorang sahabat besar. Beliau juga merupakan anak dari Asma putri Abu Bakar dan juga keponakan sekaligus murid dari Sayyidah ‘Aisyah.

Selain itu, di kalangan para tabi’in kala itu, ‘Urwah juga dikenal sebagai orang alim, faqih dan banyak hafalan serta periwayatan hadisnya. Namun, selayaknya hidup seorang manusia, ‘Urwah juga pernah ditimpa dengan berbagai musibah dan kepahitan hidup. Beliau pernah mendapatkan luka parah di kaki beliau, hingga membuat kaki beliau harus diamputasi.

Kisah ini salah satunya dapat dilihat dalam kitab Qashasus Sahabat was Shalihin (293). Suatu masa, ‘Urwah sedang dalam perjalanan dari kota Madinah menuju Damaskus. Tiba-tiba kaki beliau menginjak sesuatu hingga membuat kakinya terluka. Luka tersebut ternyata kian parah dan membesar. Luka itu juga menyebabkan matinya jaringan akibat infeksi dan kurangnya aliran darah.

Dalam bahasa medis sekarang disebut dengan gangrene atau dalam bahasa Arab dikenal dengan Ghargarinah. Pada masa lalu ada banyak orang yang meninggal akibat infeksi luka semacam ini. Atau minimal memyebabkan anggota badan harus diamputasi.

Setelah beberapa hari infeksi kian parah, kaki ‘Urwah Ibn Zubair akhirnya terpaksa diamputasi. Para tabib ketika itu menganjurkan agar ‘Urwah mengkonsumsi makanan tertentu sebagai langkah anestesi dan mengurang rasa sakit dan kesadaran. Namun ‘Urwah menolak dan berkata, “Aku tidak ingin pingsan dan membuat aku lalai dari mengingat Allah SWT.

Cerita menarik lainnya saat itu adalah ketika para tabib hendak mengkafani dan mengubur kaki ‘Urwah yang telah dipotong. ‘Urwah meminta agar ia diizinkan melihat kakinya itu dan berkata, “Ya Allah! Jika engkau hendak menguji saya dengan mengambil satu anggota badan, tetapi sungguh diriku telah dilimpahi dengan masih banyak anggota badan yang lain.”

Begitu lah karakter seorang ‘Urwah Ibn Zubair, orang bijaksana dalam keadaan tertimpa musibah pun masih tetap bersyukur dan mengingat nikmat yang lain.

Tidak cukup sampai di situ, ‘Urwah masih diuji dengan musibah lainnya yang tidak kalah besar, pada malam dimana kaki beliau diamputasi, salah seorang anak beliau ditabrak oleh seekor kuda saat sedang berada di dalam kandang hingga anaknya meninggal dunia. Dengan demikian praktis ‘Urwah dilanda dua musibah besar sekaligus dalam satu malam.

‘Urwah menghadapi musibah tersebut dengan tegar. Suatu hari Al-Walid Ibn Abdul Malik datang bertakziah kepada beliau untuk menghibur.

‘Urwah berkata kepada Al-Malik, “Saya diberikan oleh Allah empat anggota badan, dan sekarang yang diambil hanya satu, saya justru harusnya bersyukur untuk tiga anggota yang masih tersisa. Saya juga dikaruniai tujuh orang anak dan sekarang satu orang diambil kembali oleh Allah SWT, sungguh saya berkewajiban mensyukuri enam orang yag masih tersisa”.

Begitu lah suri teladan dari seorang tabi’in besar Madinah ketika menghadapi musibah yang bertubi-tubi. Semoga kita dapat meneladani sikap dan kesabaran sebagaimana yang dicontohkan oleh ‘urwah.
Buka Komentar
Tutup Komentar

0 Response

Post a Comment

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel