Membawa Kucing Ketika Shalat, Apakah Shalat Kita Sah?

Membawa Kucing Ketika Shalat, Apakah Shalat Kita Sah?
Ketika kita sedang melaksanakan ibadah shalat, terkadang ada kucing yang duduk tepat di atas sajadah yang sedang kita pakai dan kemudian duduk di pangkuan. Dalam keadaan tersebut, apakah shalat kita ini tetap dinilai sah?

Dalam masalah ini, para ulama memperinci terkait hukum membawa hewan seperti kucing dalam shalat. Mereka mengatakan bahwa jika kucing tersebut secara lahir dan fisik tidak membawa najis, maka membawa atau bersentuhan dengannya dalam shalat tetap shalatnya dihukumi sah tanpa ada perbedaan ulama.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

فإذا حمل حيوانا طاهرا لا نجاسة على ظاهره في صلاته صحت صلاته بلا خلاف

Jika seseorang membawa hewan yang suci dalam shalat dan tidak ada najis pada yang menempel pada lahir fisik hewan tersebut, maka shalatnya dinilai sah tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Meski kucing rentan terkena najis, namun jika secara fisik tidak terlihat ada najisnya, maka ia dihukumi suci. Karenanya, membawa atau menyentuh kucing tersebut dalam shalat hukumnya boleh dan shalatnya tetap dinilai sah.

Ini disamakan dengan membawa atau menyentuh baju anak kecil yang rentan terkena najis. Selama di baju tersebut tidak terlihat adanya najis, maka ia tetap dihukumi suci. Karenanya, membawa dan menyentuhnya saat shalat hukumnya boleh dan shalatnya tetap dinilai sah. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

كل عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة في جنسها كثياب الصبيان و جهلة الجزارين و المتداينين من الكفار بالنجاسة كأكلة الخنازير ارجح القولين فيها العمل باﻷصل وهو الطاهرة

Setiap sesuatu yang belum pasti kenajisannya, tapi biasa najis dalam sejenisnya seperti baju anak kecil dan tukang jagal yang bodoh, maka yang paling unggul dari dua pendapat ialah mengamalkan pendapat yang asal, yaitu suci.

Namun demikian, jika kucing tersebut terlihat ada najisnya, maka ia dihukumi terkena najis. Karenanya, ia tidak boleh dibawa shalat atau menyentunya. Jika dibawa shalat atau menyentuhnya, maka shalatnya tidak sah karena dinilai bersentuhan dengan najis.
Buka Komentar
Tutup Komentar

0 Response

Post a Comment

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel