Hukum Aborsi dalam Pandangan Islam

Hukum Aborsi dalam Islam
Kata aborsi berasal dari bahasa Inggris yaitu abortion yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Dalam bahasa Arab, istilah ini dikenal dengan Isqath al-Hamli atau al-Ijhad. Menurut Istilah, aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum hasil konsepsi dapat lahir secara alamiah dengan adanya kehendak merusak hasil konsepsi tersebut.

Dalam Islam, menggugurkan janin sama halnya dengan menggugurkan manusia yang telah lahir ke dunia, karena pada asalnya, janin juga akan tumbuh dan lahir sebagaimana manusia pada umumnya. Jadi, menggugurkan janin bisa disebut dengan membunuh manusia dan hal itu haram hukumnya sebagaimana disebutkan dalam Quran Surat al-Isra: 33

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.

Di masa Nabi, seseorang yang menggugurkan kandungan wanita lainnya akan didenda membayar diyat sebagaimana hadis yang diceritakan Abu Hurairah:

عن أبي هريرة قال: أن امرأتين من هذيل رمت إحداهما الأخرى فطرحت جنينها , فقضى رسول الله صلى الله عليه و سلم فيها بغرة عبد أو أمة

“Sesungguhnya ada dua wanita dari Bani Hudzail, salah satu dari keduanya melempar lainnya sehingga gugur kandungannya. Maka Rasulullah memutuskan harus membayar diyat sebesar seorang budak laki-laki atau budak wanita.” (H.R Bukhari Muslim)

Namun yang perlu diketahui bahwa tidak semua aborsi dilarang dalam Islam. Dalam pembagiannya, aborsi terbagi menjadi dua macam yakni.

Pertama, aborsi spontan (spontaneous aborts), atau aborsi yang tidak disengaja. Aborsi spontan biasa terjadi karena penyakit sphylis, demam panas yang hebat, penyakit ginjal, TBC, kecelakaan, dan sebagainya. Aborsi spontan oleh ulama disebut al-Isqath al-Afwi yang berarti aborsi yang dimaafkan, karena pengguguran seperti ini tidak menimbulkan akibat hukum.

Kedua, aborsi yang disengaja (abortus Provocatus). Aborsi macam kedua ini ada dua macam, yaitu:

Pertama, Aborsi Artificialis Therapicus, yaitu aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis sebelum lahir secara alami untuk menyelamatkan jiwa ibu yang terancam bila kelangsungan kehamilan dipertahankan. Aborsi semacam ini di kalangan ulama disebut al-Isqath al-Dharury atau al-Isqath al-‘ilaji yang berarti aborsi darurat atau aborsi pengobatan.

Kedua, aborsi  Provocatus Criminalis, yaitu pengguguran yang dilakukan tanpa indikasi medis untuk meniadakan hubungan seks di luar perkawinan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki. Pengguguran macam ini di kalangan ulama disebut al-Isqath al-Ikhtiyari yang berarti pengguguran yang disengaja tanpa sebab yang urgen.

Pada kasus aborsi Artificialis Therapicus, biasanya pengguguran dilakukan untuk menyelawatkan nyawa calon ibu. Pengguguran semacam ini diperbolehkan karena nyawa ibu harus lebih diutamakan mengingat ibu merupakan sendi keluarga dan telah mempunyai kewajiban baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama makhluk.
Sedangkan janin, sebelum ia lahir dalam keadaan hidup, ia belum mempunyai hak dan kewajiban apapun. Hal ini sebagaimana fatwa Darul Ifta al-Mishriyyah, Dewan Fatwa Mesir sebagai berikut:

اتفق الفقهاء على أنه إذا بلغ عمر الجنين في بطن أمه مائة وعشرين يومًا وهي مدة نفخ الروح فيه فإنه لا يجوز إسقاط الجنين ويحرم الإجهاض قطعًا في هذه الحالة؛ لأنه يعتبر قتلًا للنفس التي حرَّم الله قتلها إلا بالحق

Ulama fikih sepakat bawah ketika usia janin sudah mencapai 120 hari, di mana ruh manusia sudah ditiup oleh malaikat pada janin itu, maka tidak boleh menggugurkan janin secara mutlak. Hal ini dikategorikan sebagai pembunuhan terhadap jiwa manusia yang Allah haramkan, dan membunuhnya dikategorikan sebagai pembunuhan ilegal.

والراجح المختار للفتوى في ذلك أنه يَحرُمُ الإجهاضُ مطلقًا؛ سواء قبل نفخ الروح أو بعده، إلَّا لضرورةٍ شرعية؛ بأن يقرر الطبيبُ العدلُ الثقةُ أن بقاء الجنين في بطن أمه فيه خطرٌ على حياتها أو صحتها، فحينئذٍ يجوز إسقاطه؛ مراعاةً لحياة الأم وصحتها المستقرة، وتغليبًا لها على حياة الجنين غير المستقرة

Pendapat yang kuat dan terpilih mengenai fatwa ini adalah menggugurkan kandungan itu haram secara mutlak, baik sebelum atau sesudah tertiup ruh di dalam janin, kecuali terdapat darurat syar’i. Ini misalnya seorang dokter kredibel menyatakan bahwa keberadaan janin dalam rahim ibunya akan menimbulkan bahaya terhadap nyawa dan kesehatan ibunya. Dalam kondisi ini, menggugurkan kandungan boleh hukumnya, karena melindungi nyawa dan kesehatan ibu, dan mendahulukan ibu daripada kehidupan janin yang belum pasti.

Fatwa ini menunjukkan bahwa pengguguran seperti kasus di atas diperbolehkan dengan catatan bahwa penanganan ini adalah jalan terakhir dan satu-satunya yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan salah satu dari dua nyawa yang sedang terancam. Jika masih ada cara lain yang dapat menyelamatkan keduanya, maka cara tersebut haruslah diambil dan diusahakan semaksimal mungkin.

Sedangkan pada kasus abortus provokotus criminalis, biasanya pengguguran dilakukan karena didorong oleh beberapa faktor. Misalnya dorongan ekonomi yang timbul karena kekhawatiran terhadap kemiskinan, jika memang seperti ini, maka pengguguran ini dihukumi haram karena bertentangan dengan perintah Allah dalam Quran Surat al-Isra: 31

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

Selain karena faktor ekonomi, biasanya aborsi semacam ini dilakukan karena si calon ibu tidak sanggup menerima sanksi sosial dari masyarakat disebabkan hubungan biologis di luar perkawinan. Hal ini juga dilarang karena termasuk konsekwensi dari perzinahan yang dilarang oleh agama. Wallahu A’lam bis Shawab
Buka Komentar
Tutup Komentar

0 Response

Post a Comment

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel