√ Penjelasan Tayamum Bersuci Dengan Debu - Satriaryan22

Penjelasan Tayamum Bersuci Dengan Debu

Syari’at Islam merupakan ajaran yang sangat amat sempurna. Oleh karenanya siapa saja yang dengan lapang dada dan menerima dengan hati yang gembira menyambut syariat Islam ini yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai jalan hidupnya, sesungguhnya dia telah menemukan cahaya penerang serta ruh kehidupannya. Islam mengajarkan kita untuk selalu beribadah kepada Allah dalam keadaan suci. Oleh karena itu disyariatkanlah syariat bersuci. Dan sebagaimana sudah kita ketahui, bersuci itu meliputi wudhu, mandi dan tayamum. Nah, pada pembahasan kali ini kita akan membahasnya.

Pengertian Tayamum

Secara bahasa tayamum berarti bermaksud atau menyengaja. Sebagaimana ungkapan orang Arab tayyamamtu asy-syai’a yang maknanya qashadtuhu (saya menginginkannya). Adapun dalam terminologi atau istilah syariat, yang dimaksud dengan tayamum adalah: membasuh wajah dan kedua telapak tangan dengan menggunakan ash-sha’id yang suci sebagai pengganti bersuci dengan air yaitu ketika terhalangi memakai air. Bahkan syariat tayamum ini merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh umat ini. Allah mensyariatkannya demi menyempurnakan agama mereka, dan juga sebagai tanda bukti kasih sayang dan cinta kasih-Nya kepada mereka.

Dalil Pensyari’atannya

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada sesosok pria yang memisahkan diri tidak ikut shalat berjamaah bersama orang-orang. Maka Nabi Muhammad pun bertanya kepada sesosok pria tersebut, “Wahai fulan, apakah yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang ?” Lelaki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya mengalami junub sedangkan air tidak ada.” Maka Nabi Muhammad bersabda, “Hendaknya kamu bersuci dengan ash-sha’id, itu saja sudah cukup bagimu.”

Ash-sha’id adalah permukaan bumi serta segala sesuatu yang berdiri di atasnya. Oleh sebab itu diperbolehkan bertayamum dengan apapun yang masih layak disebut sebagai bagian permukaan bumi atau biasanya disebut dengan debu. Kita boleh bersuci dengan ash-sha'id, Apabila tidak ada air maka diperbolehkan bersuci dengan cara tayamum. Dan menunjukkan pula bahwa tayamum itu berkedudukan sebagaimana bersuci dengan air, selama air tidak ada atau tidak sanggup memakainya.

Sebab-Sebab Dilakukan Tayamum

Tayamum boleh dilakukan karena:

  1. Ketika tidak sanggup memakai air,
  2. Karena tidak ada air,
  3. Karena khawatir akan bahaya yang timbul bila tersentuh air gara-gara badan sedang menderita sakit atau karena hawa dingin yang sangat menusuk.

Bahkan banyak ulama yang berpendapat bahwa seseorang yang khawatir mati disebabkan hawa dingin yang sangat menusuk diperbolehkan untuk bertayamum, karena kondisinya serupa dengan keadaan orang yang sakit.

Allah Berfirman, “Dan (apabila) kemudian kalian tidak berhasil menemukan air maka bertayamumlah dengan tanah yang suci.” (QS. An-Nisaa’: 43)

Ada sepenggal cerita dari jabir Radhiyallahu'anhu:
Pada suatu saat kami bepergian dalam sebuah rombongan perjalanan. Tiba-tiba ada seorang lelaki diantara kami yang tertimpa batu sehingga menyisakan luka di kepalanya. Beberapa waktu sesudah itu dia mengalami mimpi basah. Maka dia pun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah menurut kalian dalam kondisi ini saya diberi keringanan untuk bertayamum saja?” Menanggapi pertanyaan itu mereka menjawab, “Menurut kami engkau tidak diberikan keringanan untuk melakukan hal itu, sedangkan engkau sanggup memakai air.” Maka orang itu pun mandi dan akhirnya meninggal. Tatkala kami berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau mendapat laporan tentang peristiwa itu. Beliau bersabda, “Mereka telah menyebabkan dia mati ! Semoga Allah membinasakan mereka. Kenapa mereka tidak mau bertanya ketika tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat ketidaktahuan adalah dengan bertanya. Sebenarnya dia cukup bertayamum saja.”

Tata Caranya

Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu, dia berkata;
‘Saya pernah mengalami junub dan ketika itu saya tidak mendapatkan air (untuk mandi). Oleh karena itu saya pun bergulung-gulung di tanah (untuk bersuci) dan kemudian saya menjalankan shalat. Maka hal itu pun saya ceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Sebenarnya sudah cukup bagimu bersuci dengan cara seperti ini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memukulkan kedua telapak tangannya di atas tanah dan meniup keduanya. Kemudian dengan kedua telapak tangan itu beliau membasuh wajah dan telapak tangannya.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits diatas dan juga hadits lainnya maka tata cara tayamum yang benar adalah cukup dengan menepukkan kedua telapak tangan satu kali (1×) ke tanah atau permukaan bumi yang lainnya, kemudian meniupnya, lalu membasuh dengan kedua telapak tangannya itu dan di wajah dan telapak tangannya (dari ujung jari sampai pergelangan, bagian luar dan dalam telapak tangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, dia menjelaskan tata cara tayamum karena junub sama halnya dengan tayamum karena hadats kecil yaitu dengan cara menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya sekali dan kemudian membasuh telapak tangan kirinya dengan bagian dalam telapak tangan kanannya dan juga bagian luar kedua telapak tangannya serta wajahnya.

Bertayamum Dengan Dinding

Ada sebuah cerita dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata; Saya datang bersama dengan ‘Abdullah bin Yasar bekas budak Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala kami bertemu dengan Abu Jahim bin Al-Harits bin Ash-Shamah Al-Anshari maka Abu Jahim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang dari arah sumur Jamal. Kemudian ada seorang lelaki yang menemuinya dan mengucapkan salam kepada beliau. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya hingga beliau menyentuh dinding (dengan tangannya) kemudian membasuh wajah dan kedua telapak tangannya. Baru setelah itu beliau mau menjawab salamnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadist diatas menunjukkan bahwa bertayamum dengan mengusap dinding juga di perbolehkan.

Pembatal Tayamum

Pembatal Tayamum juga sama dengan hal-hal yang bisa membatalkan wudhu. Selain itu tayamum juga dinilai batal apabila air berhasil ditemukan oleh orang yang berusaha mencari namun belum menemukannya. Dan tayamum juga dinilai batal apabila seseorang yang pada awalnya tidak sanggup memakai air karena sakit atau alasan lainnya ternyata pada saat itu dia sudah kembali sanggup menggunakannya. Sedangkan shalat yang sudah dilakukan sebelumnya dengan bekal tayamum tersebut tetap dinilai sah dan tidak perlu diulangi.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata;
‘Ada dua orang lelaki yang menempuh suatu perjalanan. Maka tibalah waktu shalat sementara mereka berdua tidak mendapati air sama sekali. Oleh sebab itu mereka pun bertayamum dengan tanah yang suci lalu melakukan shalat. Kemudian pada suatu saat ternyata mereka menemukan air. Maka salah seorang dari keduanya mengulangi wudhu dan shalat, sedangkan kawannya yang satu tidak. Kemudian mereka berdua menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya, “Engkau telah sesuai dengan tuntunan. Dan shalatmu pun dinilai sah.” Dan beliau berkata kepada orang yang berwudhu dan mengulangi shalatnya, “Engkau memperoleh pahala dua kali.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Buka Komentar
Tutup Komentar

0 Response to "Penjelasan Tayamum Bersuci Dengan Debu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel